Selayang Asmara di Ujung Gang

 Selayang Asmara di Ujung Gang


Intermezzo (dikit)
Hi, peeps! Kembali lagi sama gue, Sava di sini. Dari judulnya, apakah sudah ada yang tahu kali ini gue mau bahas apa? Hmmm… hari Senin, 12 Januari 2026, gue lagi off day nih di kala berita terkait banjir dan hujan intensitas sedang ke tinggi mengguyur di beberapa titik kota Jakarta. Daripada gue tarik selimut lagi, maka hari ini gue putuskan untuk nulis outline draft dari artikel yang memang sebelumnya gue udah baca. Mumpung lagi gak males #prokastinator. Okay, without any further ado, here we come…

====================
Tulisan ini diilhami oleh premis, “apakah sebenar-benarnya hiburan miskin adalah punya anak banyak?”

Karena gue beberapa kali melihat cuitan ini bermula di sosial media, entah memang memang hanya opini yang diyakini individu atau just to joke around atau sarcasm.

Internalizing, but still questioning dan berakhir bedah artikel jurnal penelitian terkait… “Si Miskin dan Percintaannya”, khususnya perempuan.

Kita semua sudah tahu, rantai kemiskinan khususnya yang bersifat struktural ini sulit banget buat diputus, tapi gak mustahil untuk dimusnahkan. Udah gitu, ya, diwariskan dari generasi terdahulu ke anak cucunya.

Dari artikel yang gue baca, ada realita pahit soal gimana kemiskinan itu ngehajar psikologis perempuan. Faktornya banyak—most commongender inequality in workplace, domestikasi pekerjaan, dan juga challenge faced dari zaman dulu.


Nah, efek domino kemiskinan ini, pertama dia bakal ngerusak quality of life, well-being, dan social function dulu. Baru setelah kualitas hidupnya udah babak belur, gerbang menuju gejala depresif itu bakal terbuka lebar. Sad to hear that.

—dan quality of life yang bisa dibahas di sini salah satunya kehidupan percintaan.

Bicara cinta dalam sudut pandang kemiskinan rasanya sulit karena untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga saja sudah menguras waktu dan tenaga. Draining.

Jatuh bangun hidup karena kesulitan ekonomi bisa buat orang merasa “social exclusion, low self-esteem, malnutrition, limited access to healthcare, and anxiety regarding the future.” Dari kondisi itulah yang nantinya akan merusak kualitas hidup, ujung-ujungnya bibit “depressive symptoms may develop,” kata Akkaya, et al (2025).

Mungkin ini juga alasan kenapa bisa tercetus paradigma "hiburan orang miskin punya anak banyak" atau buru-buru nikah. Ya, karena ketika dunia luar terlalu kejam dan ekonomi kian mencekik, asmara atau keluarga kecil sering kali ‘dipaksa’ jadi satu-satunya pertahanan emosional yang tersisa buat dongkrak kualitas hidup. Hubungan asmara dijadiin benteng terakhir biar gak gila, ada pegangan, but somehow in reality, if the poverty was too extreme, ‘bentengnya’ bisa jadi ikutan roboh juga.

Seringkali questioning their self-worth & self-sabotage. Familiar, eh? Belum lagi, seumur hidup kemiskinan bergelayut di hidupnya membawa stigma bahwa “Orang (miskin) yang milih untuk jadi (tetap) miskin”. Dunia seolah mengerdilkan, dismissed and dumped into they look not worth for anybody.



Menyedihkan, bukan? Hhhhhh~

Desclaimer ya, gue di sini gak membenarkan tindakan bahwa asmara atau berkeluarga itu adalah satu-satunya escape gate buat lu lepas dari belenggu depressive symptoms gara-gara miskin.


Gak seromantis itu jalannya, kita hidup di NKRI, bos. Jadi gak perlu utopis mentok, because if you made your partner or family as a shield you from poverty, cuma kaya buat cheating menghindari realita tai ledig. Lu cuma lagi memindahkan beban mental lu ke orang lain. It’s self-centered, to be honest.


Not degrading to anyone who chooses their way too married at a young age, guys. Purely, gue mau cuap-cuap aja dengan sesuatu konteks yang sudah gue gamblangkan ya.


Anyway, kalau gue lihat realita dewasa ini. Lately, banyak orang punya kecenderungan kayak udah mulai males untuk ribet perkara asmara di tengah ekonomi yang makin ugal-ugalan dan rupiah yang udah kaya gak ada harganya.

Daripada pusing mikirin pacaran atau nikah yang butuh modal gede, they instead choose work—or overwork #pfffffttt

Kita dipaksa percaya kalau kerja berlarut-larut adalah satu-satunya cara buat memperbaiki kualitas hidup, biar gak jatuh ke jurang depresi Jadi, kalau dulu orang miskin pelariannya ke asmara, fenomena ini kayanya udah mulai bergeser ke hustle culture. Nyari duit sampai napas Senin Kamis, demi bisa beli brewek Pokemon Card (misalnya).

Tapi ya, kalau dipikir-pikir lagi, quality of life yang dibilang sama si Akkaya dkk ini gak saklek bicara asmara aja. Hidup gak se-sempit “kalau gak punya pacar, lu bakal stres”. Banyak orang di sekitar gue yang akhirnya nemu warasnya lagi lewat jalur lain.

Mulai explore new things, find new hobbies, entah itu tiba-tiba jadi atlet segala cabor dicoba, koleksi sprei, dan lain sebagainya deh, yang awalnya mereka sendiri gak ada rencana untuk ke arah sana.

Kesibukan kecil kayak gini tuh kayak cara kita buat copying and dealing with ourself. Semacam pembuktian kalau kita tetep bisa punya "kualitas hidup" yang layak, tanpa harus bergantung kehadiran orang lain. We choose to build our own small joy & space to belong to.

Ujung gang kumal dan kusam yang dulu bising sama tawa sepasang kekasih, sekarang mungkin cuma dilewatin sama motor pekerja, berangkat subuh pulang larut dengan mata yang layu. Asmara pelan-pelan jadi yang sekian, sekiranya dimasukin ke daftar kebutuhan tersier; barang mewah yang gak semua orang mampu beli.

So, apakah kiranya asmara masih bisa jadi penyelamat atau justru cuma jadi beban tambahan di ujung gang? Well, you choose your own poison.

====================

Gang

(n)  jalan kecil (di kampung-kampung dalam kota); lorong.

Identik dengan lorong sempit, diapit bangunan yang berdesakan, dan minim pencahayaan. Lalu, stigma yang mengular adalah kumuh, kusut, dan… kemiskinan.

After living in alley area for whole entire life, gue banyak menilik fenomena unik sekitaran. Semua aspek masuk, dari pluralitas yang gue bangga-banggain sampe kriminalitas yang selalu jadi daftar hitam.


Tulisan ini diilhami dari baca penelitian terkait kemiskinan among older adult women in Turkey, draft pertama ditulis seperti intermezzo gue di atas dan dirampungkan di tanggal 10 Juli, saat gue lagi recovery sakit langganan lol. Also, ini tulisan opini ya. Bukan dari sudut pandang penulis artikel penelitian and prolly bisa aja gue di masa depan tidak seperti apa yang gue tuliskan di sini karena lagi lagi, manusia akan selalu berevolusi dari masa ke masa, entah degradasi atau degrasi. Who know’s.

Sekian dulu cuapnya hari ini, sampe ketemu upcoming writing project #sokiyebener

Reference
Akkaya, Nurhalime, Taner Artan, and Ahmed Taha Arifoglu. "Poverty among older adult women in Turkey: The association between poverty, quality of life, and depressive symptoms." Archives of Gerontology and Geriatrics Plus 2.1 (2025): 100120.


Comments