Aku dicuri
Aku dicuri pertama kalinya saat diri sedang apiknya merekah, jiwa muda yang merona. Dimusnahkan kenaifan keluguan di persimpangan jalan, niat baik dibalas kebengisan tiada tara. Ku pikir bapaknya menepi, kiranya bertanya jalan. Namun, habislah aku di sana—pada ketulusan yang diperalat. Diyakininya aku melihat bentuknya, pancanya menyorot kepuasan melihat keluguan sirna dengan kemunculan rasa bergidik ngeri, warna pucat pasi menghiasi ronaku. …ketulusanku dicuri. Atau menelisik lagi pada terik yang memancar ekstrem di jalanan kota. Aku baru saja pulang bekerja; sumpek, jengah, lelah, semuanya dikemas jadi satu manakala aku pulang dengan angkutan kota. Peluh membanjiri dahi, aku menunggu di halte sambungan. Destinasiku terputus sistem transit. Termenung menunggu, tak terasa sentuhan tak diundang hinggap di sana. Pada tempat yang tidak seharusnya disanding oleh orang yang tak kuberi izin. Sukar disembunyikan, katanya, simbol moleknya perempuan. Persetan kemolekan. Aku menangis sepanjang b...
