Aku dicuri
Aku dicuri pertama kalinya saat diri sedang apiknya merekah, jiwa muda yang merona.
Dimusnahkan kenaifan keluguan di persimpangan jalan, niat baik dibalas kebengisan tiada tara.
Ku pikir bapaknya menepi, kiranya bertanya jalan. Namun, habislah aku di sana—pada ketulusan yang diperalat.
Diyakininya aku melihat bentuknya, pancanya menyorot kepuasan melihat keluguan sirna dengan kemunculan rasa bergidik ngeri, warna pucat pasi menghiasi ronaku.
…ketulusanku dicuri.
Atau menelisik lagi pada terik yang memancar ekstrem di jalanan kota.
Aku baru saja pulang bekerja; sumpek, jengah, lelah, semuanya dikemas jadi satu manakala aku pulang dengan angkutan kota.
Peluh membanjiri dahi, aku menunggu di halte sambungan. Destinasiku terputus sistem transit. Termenung menunggu, tak terasa sentuhan tak diundang hinggap di sana.
Pada tempat yang tidak seharusnya disanding oleh orang yang tak kuberi izin. Sukar disembunyikan, katanya, simbol moleknya perempuan.
Persetan kemolekan. Aku menangis sepanjang bus yang melaju membawaku pulang ke rumah dengan derai ku sembunyikan, berharap rasa jengah ini lenyap.
…ketenanganku raib.
Dan juga pada sesaknya peron di stasiun pada jam yang menyesakan bahkan untuk tetap berdiri tegap.
Berbaris acak, semua berebut. Kejar-kejaran dengan waktu. Hingga pada satu titik, ada yang ternyata dikejar nafsu sesat.
Di antara kusut masai manusia, ada yang haus menuntut dipuaskan. Menggelegak logika, ditenggelamkannya hati nurani.
Riuh orang menutupi kebejatan di sana. Barisan yang acak, juga meluluhlantakkan akal sehatku. Semuanya kabur dalam netraku.
Maju barisan, melancipkan gelembung yang timbul menyesakkan; menumpulkan rasa malunya, barangkali.
Namun, nyatanya mengapa aku yang menanggung rasa rikuh seumur hidup? Tenangku dihabisi? Keluguanku dimusnahkan?
Ketahuilah bahwasannya aku bukan pencuri, tetapi aku dicuri; korban pencurian.
Comments
Post a Comment