Kindness Currency

Suatu ketika, aku pernah ikut aktivitas. Di sana, aku ketemu teman baru. Insting bilang, kita harus kembali sama-sama, dalam keadaan baik. Maka, aku selalu tawarkan sumber daya dan usaha yang bisa aku beri.

Kemudian, seorang teman berujar, “Kak, kamu kenapa baik, sih, sama aku?”

“Kan, emang kita harus baik ke semua orang,” refleks mengambil alih.

Gak aku sangka, dari obrolan singkat itu. Aku terus kepikiran bahkan sampai hari ini.

Saat era di mana modernisme—sisi individualistik kian menonjol, semua bersifat transaksional dan mutualisme.

Apakah menjadi baik merupakan alat tukar sah?

Manakala menjadi baik merupakan simbiosis mutualisme, apakah entitas kemurnian dan budi luhur manusia tergerus?

“Oh, dia baik sama aku, maka aku juga baik sama dia”

“Ah aku begini, soalnya nanti dia bakalan begitu ke aku”

Bagaimana kalau ternyata kita sudah baik, tetapi umpan balik yang diterima tidak sesuai harapan? Apa kita kecewa? Marah? Pada siapa?

Pada ekspektasi yang kita ciptakan sendiri di kepala?

Kita terlalu dependen dengan pemikiran bahwa semua ada balasannya, akan ada pamrih saat kita berperangai baik karena ada imbalannya; transaksional.

Comments